/>
Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Wednesday, June 7, 2017

Review : Mahardikans - Resti Dahlan


 Judul : Mahardikans
 Penulis : Resti Dahlan
 Genre : Teenlit
 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 Bahasa : Indonesia
 Tebal : 280 hlm
 Format : Softcover
 Terbit : Cetakan pertama, April 2017
 ISBN13 : 978-602-033-704-3
 Harga : Rp. 59,000,- , TB. Gramedia Mal Cinere

Sinopsis :

"Pertama, nggak ada yang boleh tau tentang hubungan kita. Kedua, jangan ajak gue ngobrol di sekolah. Dan ketiga, terserah lo mau berteman sama siapa aja di sekolah. Asalkan... dia bukan anak IIS." 

Kekey sudah menduga kehidupannya akan semakin suram karena terpaksa satu sekolah dengan Elgo, musuh bebuyutannya. Tapi dia tidak menyangka rasanya akan seneraka ini. Apalagi setelah ia bertemu Arky, seniornya yang super ramah dan Zammar, artis idolanya sejak kecil yang ternyata anak IIS. 


Ditambah lagi permusuhan dua kubu SMA Mahardika. Elgo, Derrick, Endru, dan Abim dari kubu MIA. Sedangkan Arky, Zammar, Kevin dari kubu IIS. Kekey yang tidak tahu apa-apa mendadak terseret ke dalam pusaran pelik itu. Apa yang harus Kekey lakukan?

Resensi : 
SMA Mahardika, SMA swasta yang reputasinya tidak perlu ditanya lagi. Buat masuk ke sini tidak semudah mengandalkan nilai UN atau sederet kenalan-kenalan lainnya. Masuk ke sini butuh melalui serangkaian tes. Bukan hal aneh kalau Mahardikans --sebutan untuk murid SMA Mahardika-- memenuhi perguruan tinggi favorit ataupun menjadi orang yang berhasil. Sayangnya, keterangan ini masih belum bisa membujuk Kekey untuk ‘ikhlas’ bersekolah di Mahardika. Bukan tanpa sebab sih, alasannya itu dipicu oleh kehadiran musuh bebuyutannya yang juga bersekolah di sini.

Kekey menjadi tidak mood buat masuk SMA karena memikirkan hal itu. Masih hari pertama pun dia sudah terlambat. Saat akan berjalan menuju kelasnya, ia melihat keramaian di lapangan SMA Mahardika. Kekey lantas menyeruak di antara kerumuman itu. Ia melihat empat orang cowok yang salah satunya familier di mata Kekey, Elgo, sang musuh bebuyutan, sedang melakukan LOS susulan untuk siswa yang tidak mengikutinya kemarin dan mengisengi salah satu siswi dengan melempar tasnya ke ring basket. Kekey langsung sigap menolong gadis tersebut. Keempat cowok tersebut terkejut mendapati Kekey berani melawan mereka, yang legend-has-it adalah pentolan Mahardika jurusan MIA itu. Kekey dijanjikan sekotak cokelat dan boneka bila berhasil.

Sekotak cokelat pun menghampirinya disertai kertas yang isinya tulisan untuk berhati-hati. Tak lama, kotak cokelat lainnya dengan kertas yang isinya kurang lebih sama. Datang lagi sampai total empat kotak cokelat ia terima. Awalnya sih cuma gertakan-gertakan biasa. Namun, lama-kelamaan gertakan itu menjadi lebih intens. Apalagi setelah ia mengenal Kak Arky, pentolan Mahardika dari jurusan IIS dan secara mengejutkan, Zammar, idolanya yang bersekolah di Mahardika. 

“Hidup kadang penuh kejutan, Key” -Zammar, pg.236

Benar saja apa kata Zammar, hidup Kekey sudah tidak biasa-biasa lagi. Semenjak hari itu, dirinya selalu diributkan antara geng Elgo yang terdiri atas Derrick, bulenya Mahardika; Endru , si kalem yang agak bandel; dan Abim, sang pemeriah suasana dan geng Arky, seniornya IIS, Zammar sang idola, dan Kevin, sang pewaris tunggal hotel ternama di Jakarta. Ada saja yang menyebabkan mereka bertikai dan sialnya, Kekey selalu terseret ke dalam pusaran tersebut. Kekey mencoba sebisa mungkin untuk menghindar dari konflik itu dengan mengikuti perkataan Elgo untuk menjauh dari Arky. Entah itu kutukan atau anugerah, ia selalu dipertemukan dengan Arky. Satu hal yang Kekey lengah, ternyata, semua hal yang terjadi padanya berujung pada suatu memori dan rahasia.

Itulah sekelumit cerita dari buku bersampul pink-biru ini. Sekarang, kita hahas buku ini. Pertama nemu buku ini, agak skeptis sih. Bakal kayak cinta-cintaan SMA ga ya? Bakal klise ga ya? Bakal begini ga ya? Bakal begitu ga ya? dan semuanya sedikit teringankan oleh kalimat dari Kak Esti Kinasih yang menaruh endorsement di covernya dan saya pikir, mungkin bagus dan pas dibaca, semua pikiran itu ngembus gitu aja. Buku ini rame banget asliiiii. I can’t stop flip the pages! Bahas plotnya, ini plotnya mengalir dan dikemas dengan baik. Latar yang dipakai pun realistik. By the meaning of realistic, ini sesuai banget sama SMA sekarang. Istilah-istilahnya juga hal-hal yang terjadi di SMA sekarang. Penuturannya agresif, mengajak pembaca untuk merasakan apa sih yang terjadi antara para Mahardikans itu. Karakternya cantik dan rapi, digambarkan jelas dan on track. Somehow, karakternya saling melengkapi. 

Hal lain yang bakal dibahas adalah twist. Writer menaruh twist nyaris di setiap persitiwa yang terjadi di Mahardika. Semua itu strong sampe akhir dan hebatnya, writer seperti tidak kehabisan kejutan untuk diberikan kepada kita para pembaca. Aku sendiri tidak berhenti untuk berkata “SAY WHAAAAAAT?” atau “OH MY GOD”. I have to salute you for that, kak Resti.

Buku ini benar-benar memegang inti teenlit. Penggambaran remaja tanpa harus diberikan dash of romance. Berdiri kuat tanpa harus ada adegan-adegan roman yang tidak perlu. Semua hal yang terjadi saling berkesinambungan dan menghasilkan sebuah ending yang bisa dibilang, cukup memuaskan. Btw, kutipan di buku ini bagus-bagus loh hehehe.

Anyway, buat kesimpulannya, ini buku worth-to-read dan menghibur banget. I would recommend this to you, teenagers. Especially, buat para remaja tingkat SMA. ini keren dan relatable banget buat kalian. Let me know if you read this book and kalian berada di #TeamElgo atau #TeamArky? Put your support on the comment section!

Worth a 4/5 stars for Mahardikans

Tuesday, June 6, 2017

Review : Momiji - Orizuka


 Judul : Momiji
 Penulis : Orizuka
 Genre : fiction, family romance
 Penerbit : Penerbit Inari
 Bahasa : Indonesia
 Tebal : 210 hlm
 Format : Softcover
 Terbit : Cetakan pertama, Mei 2017
 ISBN13 : 978-602-604-438-9
 Harga : Rp. 59,000,- , TB. Gramedia Mal Cinere
Sinopsis :
Patriot Bela Negara lelah punya nama seperti, terutama karena dia memiliki fisik dan mental yang sama sekali tidak seperti patriot, apalagi yang siap membela negara.
Seumur hidupnya, Patriot diolok-olok hingga akhirnya, dia memutuskan memberontak. Dia jadi gandrung Jepang, belajar bahasa Jepang, dan punya cita-cita pergi ke Jepang untuk bertemu Yamato Nadeshiko-tipe wanita ideal versi Jepang.
Di usianya yang kedua puluh, Patriot akhirnya berada selangkah lebih dekat dengan cita-citanya itu. Dia menginjak Jepang untuk ikut program pendek musim gugur di Osaka dan beruntung baginya, orang tua inang tempatnya homestay punya anak gadis seusianya.
Shiraishi Momiji, gadis itu, mungkin adalah buah penantiannya selama ini.
....atau mungkin bukan.
Resensi :
Buku yang bersampul perempuan muda berambut red flame ini dibuka dengan penceritaan singkat tentang laki-laki kikuk yang namanya gagah abis, Patriot Bela Negara. Sesungguhnya, sang karakter kurang menyukai nama tersebut. Selentingan-selentingan berkaitan namanya sudah sering sekali ia dapatkan. Terutama bila berkaitan dengan lawan jenis. Untungnya, saat SMA seseorang menyingkat namanya menjadi Pabel.

Sayangnya, akibat selentingan tersebut, ia tidak jadi senasionalis namanya. Sebaliknya, ia sangat suka budaya Jepang. bahkan, ia rela menghabiskan tabungannya untuk ikut semester musim gugur di negara yang terkenal akan bunga sakuranya. Ia ingin namanya berlalu dalam negara lain dan mendapatkan perempuan pujaanya. Tipikal Yamato Nadeshiko.

Sampailah ia di Osaka, Jepang. Tempat tabungan melabuhkannya. Ia tinggal bersama keluarga Shiraishi selama ia di Jepang. Pada satu kesempatan,Nanami-san menunjukkan sebuah foto seorang gadis yang sangat memenuhi kriteria Pabel. Pabel tertarik akan sang Momiji --gadis di foto-- yang katanya sedang berada di luar kota.
 "Momiji berarti dedaunan yang berubah merah di musim gugur, identik dengan maple Jepang; dedaunan yang seolah memberikan rasa hangat di tengah dinginnya musim itu" -pg.8
Kedatangan Pabel ke rumah tersebut ternyata dibarengi kedatangan Momiji. Namun, pertemuan keduanya bisa dibilang tidak berjalan mulus. Pabel sebenarnya terkejut akan Momiji. Ia tidak menyangka bahwa kehadiran Momiji membawa banyak kejutan dalam hari-harinya di Osaka.

Momiji, buku keluaran Orizuka yang baru ini ternyata cukup memikat hati. Ini info ga penting sih, but kadar memikatnya itu bisa bikin nunda mandi sore-sore. Serius hahaha. Pengenalan karakter Pabelnya enak banget, maksudnya, kita bisa proyeksiin Pabel itu gimana dan tetap strong sampai akhir buku. Latarnya sendiri pun mendetil. Aura bukunya ringan sampai di akhir. Penuturannya santai dan halus.

Plotnya sendiri dominan linear. Bagian twistnya, benar-benar bikin kaget dan sangat tidak disangka-sangka. Membaca endingnya, gantung. Cliffhanger. Ya apalah itu kalian nyebutnya, pokoknya masih belum ikhlas liat kata TAMAT. Suasana yang dibangun sama writer juga enak, rasa Jepangnya terasa. Writernya memahami kebutuhan readers juga sih. I mean, dikasih footnotes untuk istilah-istilah Jepang, jadinya kita tetap enjoy sepanjang buku tanpa harus browsing istilah tersebut.

Entahlah, ada satu pikiran yang hinggap ketika baca buku ini, yaitu, pahlawan ga selalu keliatan gagah. Pahlawan ga selalu berkuda putih dan pandai diplomasi. Pahlawan sesungguhnya adalah yang orang yang penuh toleransi dan tidak egois. Nice writing, kak Orizuka :)

Aku kasih 3/5 untuk red-flamed Momiji 

Goodbye,
lovelots!
xoxo

Friday, March 31, 2017

Review : Hey! You! - Pelangi Tri Saki


 Judul : Hey! You!
 Penulis : Pelangi Tri Saki
 Genre : Teenlit
 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 Bahasa : Indonesia
 Tebal : 200 hlm
 Format : Softcover
 Terbit : Cover baru,Januari 2017
 Catatan : Series, #1
 ISBN13 : 978-602-033-666-4
 Harga : Rp. 53,000,- , TB. Gramedia Mal Metropolitan

Sinopsis :

"KAK ILLO SAYANGGG, BANGUN!!!"

Teriakan dari balkon seberang rumah itu sudah setia menemani hari Zillo sejak bertahun-tahun lalu. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan si bocah upil, Nadira, cewek yang sudah naksir Zillo sejak mereka masih kecil. Dan sekarang si bocah upil itu masuk ke SMA yang sama dengan Zillo! Cewek itu mengintilinya ke mana-mana di hari pertama ospek, nekat nyanyiin lagu romantis yang nggak banget di depan semua anak, merusak reputasi Zillo sebagai ketua OSIS tampan dan terkenal. Tahun terakhir Zillo di SMA berubah jadi neraka!
Tapi, apa benar terasa kayak neraka? Kalau semua itu begitu menyebalkan, kenapa Zillo jengkel waktu Nadi ditaksir ketua ekskul karate? Kenapa Zillo kesal waktu sahabatnya sendiri berubah jadi overprotective ke Nadi? Masa iya dia jatuh cinta sama si bocah upil?! Terus, gimana kalau ternyata Zillo terlambat jatuh cinta?

Resensi :

Duh, Zillo bakalan gila kalau begini terus!! Nadi terus-terusan menggganggu hidupnya. Mulai dari dia bangun tidur sampai mau tidur lagi. Awalnya, Zillo berpikir 'ketempelan' Nadira ini cuma sampai SMP. Nyatanya, ia menempeli Zillo sampai SMA. Bahkan, di hari pertama MOS, ia sudah membuat kepala ZIllo sakit. Kelakuan Nadi nyaris meruntuhkan wibawa Zillo, sang ketos SMA Nusantara. Sayangnya, ketenaran Zillo dampaknya kurang baik bagi Nadi. Ia dirundung habis-habisan oleh para penggemar Zillo.

Nadi memang cewek nekat. Nekat demi Zillo. Mulai dari suka masuk-masuk kamar Zillo lewat balkon sampai manjat pohon demi melihat sang pujaan hati.

“But someday i’ll make you fall in love with me” -Nadi, hal. 33

Suatu hari, Nadi direkrut jadi perwakilan kelas untuk OSIS. Wah, seneng dong Nadi. Bisa ketemu Kak Illo --panggilan Nadi untuk Zillo-- lebih sering. Hari-hari Nadi makin penuh kejutan berkat Kak Noel, tetangganya dan secara tak diduga, senior ekskul karatenya, Kak Revo. Revo secara terang-terangan mendekati Nadi. Noel menyadari hal itu dan langsung memperingati Revo.

“Untuk patah hati lo nggak harus menemukan fakta bahwa dia udah punya pacar atau belum, tapi kemana hatinya tertuju” -Noel, hal. 66

OSIS SMA Nusantara ada agenda mengunjungi SMA Atlanta. Nadi diutus buat jadi perwakilan SMA Nusantara. Hampir seluruh anggota OSIS laki-laki menawarkan diri mengantar Nadi yang sukses membuat Zillo jadi gemas sendiri. Tiba-tiba, Revo menawarkan diri, nyaris memaksa. Nadi akhirnya menyetujui untuk berangkat bersama Revo. Zillo merasa tak tenang, ia mengajak Nigi untuk menemaninnya menemani Revo dan Nadi ke Atlanta. Malangnya, Nigi jadi korban pelampiasan emosi Zillo.

Lama-lama, Zillo jadi suka bete sendiri kalau Nadi dekat dengan Noel tau bercengkrama dengan Revo. Bahkan, Revo berani makan malam di rumah Nadi dan menggoda Nadi ternag-terngan. Zillo jadi panas dibuatnya. Zillo pun mengabaikan Nadi dan juga dilanjut dengan serangkaian kejadian yang membuat hubungan Nadi dan Zillo renggang. Di lain tempat, semakin Zillo menyadari perasaannya, semakin jauh genggaman tangan Nadi.

Eyang Nadi datang menjemput Nadi, menawarkan untuk hidup bersama di Jerman. Awalnya, Nadi ragu. Nadi masih ingin bertahan. Sayangnya, ia melihat Zillo tidak berpikir demikian. Ia bulatkan tekad untuk terbang ke Jerman. Tentu saja, Noel tidak terima. Ia merayu Nadi agar tidak pergi. Nadi dibuat bimbang menentukan pilihannya.

 “Tapi, manusiawi kan, kalau kita pengin orang yang kita suka, suka sama kita juga?” -Nigi, hal. 165 
Kutipan ini emang powerful. Secara keseluruhan, inti buku sudah tersampaikan dengan cukup baik. Plotnya ga loncat-loncat. Mengalir halus. Mengalir dalam artian ya dari hari ke hari dan sifatnya linear. Konfliknya mungkin kurang terasa sedikit. Tapi endingnya cukup meyentuh sampai bisa bikin mata berkaca-kaca.

Secara karakter, penggambaran Nadi natural dan realistis. Maksudnya, memang sifat Nadi adalah sifat yang memang umum di kalangan remaja. Juga Zillo, ga terlalu ‘tinggi’ buat karakter seumurannya. Dingin, cuek, agak stubborn, dan ini ngegemesin banget deh asli. Well played! Suka deh sama Nadi, soalnya kayak aku haha. Jokesnya tersampaikan dengan baik dan halus, tidak klise ataupun berlebihan.

My favourite part is ketika makan malam keluarga. Ada Revo, Zillo, Nadi, Noel, Nigi, Aran, Varo, papa Nadi dan mama Nadi. Ramai banget gitu ya hahaha. Terus soal sindir-sindiran sampai sarcasm jokes yang terang-terangan. Lucu ketika Zillo berusaha narik perhatian Nadi tapi juga berusaha untuk ga terlalu kelihatan niatannya. Walaupun ujungnya digodain Noel sih.

Pelajaran yang bisa dipetik sebenernya cukup sederhana dan obvious. Better late than never. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Juga, menunggu. Ada baiknya menunggu. Tuhan merencanakan sesuatu di balik penantian. Kalau baca bukunya, nanti kerasa kok vibe kalimat-kalimat itu haha.

Anyway, suka sih sama buku ini. Tipe buku yang dibaca pas lagi reading slump, lagi males banget baca tapi butuh sesuatu untuk dibaca (ikr, it's confusing lol) atau pas break aktivitas. i’ll give 2.7/5 buat buku ini. Enjoyable but not really satisfying. Tapi, buat aku sih, aku masih mau baca Damn! It’s you!. See you di ulasan Damn! It’s You! yaaa.

Thursday, March 30, 2017

Review : Segala Yang Tajam - Gillian Flynn



 Judul : Segala yang Tajam
 Penulis : Gillian Flynn
 Genre : Thriller
 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 Alih Bahasa : Ariyantri Eddy Tarman
 Bahasa : Indonesia
 Tebal : 336 hlm
 Format : Softcover
 Terbit : Juni 2016
 ISBN13 : 978-602-033-070-9
 Harga : Rp. 78,000,-
Sinopsis :
Camille Preaker dihadapkan pada tugas reportasi yang sulit: dia harus kembali ke kota asalnya untuk menyusun liputan mengenai pembunuhan dua anak perempuan. Padahal, sudah bertahun-tahun Camille nyaris tidak pernah berbicara dengan ibunya yang menderita hipokondria serta adik tirinya, gadis cantik tiga belas tahun yang menebarkan pesona yang mampu menyihir kota kecil itu.
Kini, mendekam di kamar lamanya di rumah besar bergaya Victoria itu, Camille menemukan banyak kesamaan antara dirinya dengan para korban yang masih sangat muda. Dibayangi hantu-hantunya sendiri, Camille berupaya keras mendapatkan cerita yang dia inginkan––yang mengharuskan dia menggali dan membongkar masa kecilnya yang ganjil dan kelam.

Review :
Setelah sekian lama vakum nulis, akhirnya bisa nulis lagi. Sebagaimana siswa kelas akhir, pastinya disibukkan sama sekolahnya. Tapi, baca buku ga pernah absen kok :p. Cuma mesti pandai-pandai curi waktu.

Kali ini, ada seorang wanita bernama Camille Preaker, seorang reporter Chicago Daily Post, ditugaskan untuk meliput kasus pembunuhan di kota kelahirannya, Wind Gap. Camille sedikit tegang mendengarnya. Kenangan tidak menyenangkan akan kehidupan masa kecilnya hinggap di kepalanya. Ia bahkan tidak dekat dengan ibunya, ayah tirinya, dan adik tirinya. Bukan tanpa sebab Camille meninggalkan Wind Gap. Ia benar-benar terpurtuk dengan kematian adiknya, Marian. Marian meninggal karena sakit. Hanya itu yang Camille tahu.

Berat hati, ia berangkat ke Wind Gap untuk mencari berita demi atasannya, Curry. Ibunya bahkan tidak menyambutnya. Baru saja datang, sudah ditanya kapan pulang. Ibunya memang dingin, sinis, dan sedikit terkesan psychotic di hadapannya. Namun, tidak di hadapan Amma atau Marian, mendiang adiknya. Secara kasat mata, sang Ibu kurang menyukai Camille (bukan kurang suka, nyaris gasuka sama sekali!). Menurut ibunya, Camille terlalu banyak memberontak.

Korban siksaan mental lainnya adalah adik tirinya, Amma, yang sudah lama tidak ia ingat-ingat lagi. Sekarang ia tumbuh menjadi gadis 13 tahun dengan kelakuan yang berubah-ubah. Amma dirumah lebih manis dari Amma bersama teman-temannya. Amma sedikit liar di luar rumah. Amma adalah tipe gadis dominan dan bersedia menukar dirinya untuk narkoba.

Buku ini pun mengupas sedikit demi sedikit secara menyakitkan tentang kehidupan Camille. Camille seringkali menyayat, menusuk, mengukir tubuhnya untuk melampiaskan depresinya. Tak satu inci pun kulitnya tidak disayat, kecuali wajah.

“Aku suka mengiris kulitku sendiri. Juga memotong, menyayat, mengukir, menusuk. Aku kasus yang sangat istimewa. Aku punya tujuan. Begini, kulitku menjerit. Kulitku dipenuhi kata - masak, cupcake, kucing, keriting - seperti anak kecil yang memegang pisau belajar menulis di kulitku.” -Camille, hal. 83

“Dan di dekatnya, kata pertamaku, diiris pada hari musim panas mencemaskan pada usia tiga belas : jahat.” -Camille, hal. 83

Camille pun berpetualang menyelidiki kasus pembunuhan dua gadis kecil ini. Sayangnya, ia lengah. Ia menggali terlalu dalam. Ia tidak hanya menggali kehidupan korban-korban tersebut, namun ia juga menggali kehidupannya dan kematian Marian. Camille harus membayar atas segela keingintahuannya dan hutangnya terhadap Marian. 

Buku yang merupakan buku debut Gillian Flynn ini mengangkat tema dysfunctional families, kekerasan, dan self-harm. Sensasi yang ditawarkan buku ini tidak main-main. Gelap, perih, sakit, depresi. Mungkin kata-kata ini cukup menggambarkan apa yang aku rasakan. Jujur, buku ini sempat mempengaruhi pikiranku. Roh buku ini sangat-sangat kuat. Cara Flynn membawakan karakter Camille yang tersiksa mentalnya, benar-benar hidup di buku ini. Aku sempat terpaku dan hampir menangis betapa gelap dan menyakitkan hidup Camille.

Plot twistnya cukup mengagetkan. Benar-benar tidak bisa ditebak. Walaupun beberapa halaman sebelumnya telah memberikan sedikit clues tentang siapa pembunuhnya. Yah, kayak kode-kode gitu. Buku ini tak hanya ‘menyiksa’ mental. Seakan merasakan siksaan fisik di dalam buku tersebut. Seperti 'membunuh'mu pelan-pelan. Seperti disayat perlahan, merasakan setiap sensasi sayatan namun kamu belum mati. Yah, agak gelap sih tapi ya emang gitu rasa buku ini.

Alurnya tidak terburu-buru. Cenderung perlahan. Saking pelannya, kamu tidak tahu kalau kamu sudah jatuh ke lubang misteri yang dalam. Salut banget sama penuturan plotnya. Ga diburu-buru mengakhiri. Such an oddly-beautiful book. Membaca buku ini membutuhkan waktu lama untukku. Bukan tipikal buku yang cuma membalikkan halaman. Buku ini diresapi pelan-pelan. Bahkan, saat aku membaca buku ini, halamannya sedikit keriting, agak lecek karena dibawa kemana-mana.

 original cover
source : wikipedi

Untuk para pembaca buku-buku thriller, please add this book to your TBR list. Jangan lupa buat stay sane selama membaca buku ini. Buku ini akan melayangkan pikiranmu kemana-mana dan mengacak-ngacak jiwamu.


Give it 4.7/5 untuk buku debut Flynn dan jeritan-jeritan di kulit Camille

Goodbye,
lovelots!
xoxo

Tuesday, July 12, 2016

Review : Spotlight - Tita Rosianti

Judul : Spotlight
Author : Tita Rosianti
Genre : Metropop
Penerbit : Pastel Books
Bahasa : Indonesia
Tebal : 202 hlm
Format : Softcover
Terbit : Juni 2016

Catatan : Non-Series
ISBN : 978-602-7870-89-5
Harga : Rp 55.000,- 


Sinopsis :


Pagelaran itu terinspirasi dari haute couture dunia fashion. Tentang kostum-kostum yang dijahit tangan oleh desainer tersohor se-Asia. Kain-kainnya gelap, dijelujuri benang hitam yang mengilat. Dan, untuk membuatnya semakin megah, akan dipamerkan dalam perjalanan pesiar Kingdom Oceania dari Marina Bay ke pesisir Phuket.

Ada Kaylan di sana. Model terkenal yang sukses membuat semua model se-Asia iri. Kibasan rambutnya bisa ditaksir dengan dolar. Pun, gaya hidupnya. Tak heran jika ada orang yang ingin mencelakainya. Tak heran pula jika dalam pagelaran tersebut, Kaylan cedera dan tak bisa melenggang di atas catwalk.

Satu-satunya orang yang bisa menggantikannya, secara sembunyi-sembunyi, adalah Kai. Adik kandung Kaylan yang paling mirip sedunia. Hanya saja, ada satu masalah ...

... Kai itu laki-laki.



Resensi :

Bagaimana rasanya kalau kamu adalah model papan atas Asia? Bahkan, desainer terkenal saja menginginkan kamu memakai baju rancangannya. Hal itu dialami oleh Kaylan. Kaylan adalah seorang model yang sedang naik daun. Kaylan dengan sikapnya yang sedikit bitchy itu sukses membuat beberapa model lainnya iri dan tidak suka. Kaylan hanya cuek saja, demi reputasinya.

Kai, adik Kaylan. Mirip hampir identik dengan kakaknya. Hanya beda gender saja. Terpaksa ikut dengan Kaylan, karena ia bisa memanfaatkan liburan di kapal pesiar. Kai sebenarnya risih dengan sikap kakaknya. Bahkan, ia menamai kontak kakaknya dengan nama "Cu Pat Kay"

Aya, sepupu Kaylan. Bekerja sebagai manager Kaylan. Sangat dekat dengan Kaylan. Tetap profesional walaupun ia sepupu Kaylan.

Master Liem membuat baju-baju rancangan baru. Kaylan, sebagaimana model utama berlenggang dengan anggun di catwalk saat rehearsal. Tiba-tiba, Kaylan jatuh tersungkur. Setelah dicek, Kaylan tidak hanya terkilir, tapi juga kakinya penuh luka baret dan serpihan kaca menancap. Panik! itu yang dirasakan Kaylan. Mau bagaimanapun, pagelaran tersebut penting baginya. Semua mata tertuju pada Kai, copy Kaylan. Kai didandani sedemikian rupa untuk menggantikan Kaylan selama Kaylan dalam masa pemulihan. Sekaligus, ia ingin menyelidiki dalang di balik semua keributan ini.

Secara garis besar, isi bukunya adalah perjalanan Kai yang menyamar jadi Kaylan. Bedanya, Kai sangatlah ramah dibanding Kaylan yang bitchy. Kai juga kreatif dan mengalah pada kakaknya. Plotnya, cukup cepat, agak klise, tapi cukup bisa dinikmati lah untuk bacaan yang sangat ringan. Diselingi candaan-candaan yang sedikit over, tapi lucu juga (apa karena aku receh ya?). Setidaknya, jadi ga tegang dengan konflik yang ada. Bukan novel serius, tapi juga bukan bedtime stories.

Kalo kamu punya kakak, mungkin sedikit terasa perjuangan Kai untuk Kaylan. Juga rasa terima kasih yang besar untuk sang adik. Novel ini seakan mengangkat juga problem kakak-adik yang sering sekali berselisih paham. But, remember, selalu ada hikmah di setiap kejadian.

Btw, tokoh favoritnya mungkin Kai. Kai seperti all-time-problem-solver. Hero to everyone. Tapi, dia masih kesulitan nanganin gebetannya tuh :(. Adegan favorit mungkin saat gaun Kaylan digunting habis-habisan, sampai akhirnya Kai memperbaiki gaunnya, bahkan sampai pagelarannya ia ubah total sampai terasa sangat fresh dan modern.

Kasih 2.8/5 deh buat Cu Pat Kay :p


Goodbye,
lovelots
xoxo

Monday, July 4, 2016

Review : The Bridesmaids Tale - Fala Amalina



Judul : The Bridesmaids Tale
Author : Fala Amalina - @Kaleela
Genre : Romance
Penerbit : Gagas Media
Bahasa : Indonesia
Tebal : 282 hlm
Cover : Softcover
Terbit : Juni 2016

Catatan : Non-Series
ISBN : 978-979-780-817-4
Harga : Rp 70.000,- 


Sinopsis : 

Alana, Audi, Kaia, Nadine, dan Adel, lima sahabat dengan karakter berbeda. Lana yang kelewat kaku, Audi yang terlalu saklek, Kaia si magnet lelaki, Nadine yang polos, dan Adel si gadis alim. Namun, kelimanya punya impian yang sama : sukses dalam karir dan menikah dengan lelaki impian.

Setelah terpisah sekian lama, kelimanya berkumpul kembali untuk sebuah kabar gembira. Nadine akan segera menikah! Di tengah kabar gembira itu, hanya Lana yang merasa cemas.

"Gue mau kalian yang jadi bridesmaids pernikahan impian gue. Tapi..., kalian harus bawa pasangan masing-masing sebagai groomsman kalian."

Lana hanya bisa gigit jari di tempat duduknya. Pasalnya, hanya dirinyalah yang belum memuliki pasangan. Jangankan memiliki pasangan, Lana bahkan tidak berniat untuk jatuh cinta-apalagi memercayai cinta.

Sebuah kisah tentang hati yang hampir tak punya harapan, tetapi cinta menyapanya kembali. Tentang seseorang yang ternyata menemukan tangan-tangan lain yang menguatkan.

Resensi :
Buku dengan sampul warna pink ini menceritakan lima sahabat yang kembali berkumpul setelah mendengar salah satu dari mereka menikah. Nadine akan menikah dengan Fabien, cowok Perancis yang sudah lama dikencaninya. Nadine meminta keempat sahabatnya menjadi bridesmaids dan membawa pasangannya sebagai groomsman. Adel, Audi, dan Kaia sih santai-santai saja. Adel dengan Theo, Audi dengan Gema, Kaia dengan Eggy. Lana hanya bisa pasrah. Lana harus mengajak seorang lelaki sebagai groomsman, tetapi bukan anggota keluarganya. So, the search is began.

Keempat sahabatnya membantu Lana mencarikan seorang lelaki. Bahkan sampai merekomendasikan beberapa pria acak di restoran ketika mereka makan siang. Lana bukannya tak ingin mempunyai lelaki, Lana hanya ingin mengejar impian dan ambisinya. Maka dari itu, ia tak pernah berkencan setelah Tora, mantannya yang sudah menikah. 

Sekembalinya dari makan siang bersama, Lana melihat seorang lelaki memakai kaus, celana kargo, dan sendal jepit di kubikelnya. Tampaknya ia bermain-main dengan komputer Lana. Lana langsung menghampiri lelaki tersebut. Lana terkejut melihat hasil kerjanya berantakan seketika hanya karena...... streaming youtube. Lana sangat marah pada lelaki yang bernama Gibran itu. Gibran merasa bersalah pada Lana. Ia menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas, kemudian ia serahkan pada Lana. Lana cuek saja. Ia sangat kesal pada lelaki itu.

Suatu hari, ia diminta membawa cheesecake untuk Audi. Di bakery, ia bertemu kembali dengan Gibran. Ia kembali membuat Lana kehabisan kesabaran. Akhirnya, Lana menyerah. Lana menerima bantuan Gibran. Keesokan harinya, Lana menemui Gibran. Kadar gengsi Lana sedang tinggi-tingginya, namun Lana harus mencari seorang lelaki untuk dijadikan groomsman di pernikahan Nadine. Lana meminta Gibran menjadi kekasih pura-pura Lana. Gibran terkejut. Namun, demi mengurangi raa bersalah di hatinya, ia bersedia membantu Lana menjadi kekasih pura-puranya. Awalnya, Lana berusaha tidak melibatkan perasaannya. Mau bagaimanapun, Sam --panggilan Gibran-- adalah kekasih pura-puranya. 

Sam mengiriminya sebuket bunga setiap hari sampai Lana bosan. Sam juga menemaninya ke berbagai acara keluarga. Bahkan, Sam secara tidak langsung membawanya menemui ibu kandung Sam. Sam bahkan mengajari Lana mengasah kembali kemapuan bermain pianonya. Semua ini membuat Lana berpikir ulang tentang lelaki bernama Gibran Samudra Anggabanyu. Namun, semua hal manis itu berubah ketika Sam memutuskan untuk pergi ke Boston. Masalah dimulai dari Lana yang setengah berteriak di restoran.

Yup, itu dia summary dari buku The Bridesmaids Tale ini. Aku nemu buku ini karena aku lagi liburan dan butuh buku terbaru. Sebelum beli di tobuk di gram*dia, aku survey dulu di salah satu tobuk online langganan.

Segi plot, sederhana dan mudah dimengerti. Konflik juga ga terlalu ribet dan juga penyelesaiannya sederhana. Buku ini gampang dimengerti pokoknya. Karakternya juga kuat, mandiri, dan koneksi antara karakternya juga natural dan chemistrynya ada. Apalagi koneksi antara Adel, Audi, Kaia, Lana, dan Nadine. Dialognya juga independen, ga "nimbrung". Suasana yang diciptakan oleh penulis juga kuat, berasa. Kalo baper ya baper, kalo sedih ya sedih, kalo happy ya happy. Ga bosen juga suasananya. Fresh. Sedikit selipan humor yang lucu, tapi ga berlebihan. Kita juga dibawa menjadi "Lana". Kebetulan karakter aku sama banget kayak Lana :p. Berasa banget jadi Lana-nya. 

Karakter fav jangan ditanya. Pasti Lana. Lana yang cuek, penuh ambisi, rajin, ready kerja 24/7, dan disiplin sama deadlinenya. Lana sangat sayang pada sahabat-sahabatnya. Apalagi Nadine yang akan menikah. Sampai bela-belain nurunin gengsi dan (pura-pura) pacaran sama Sam. Bahkan sampai nyariin souvenir pernikahan buat Nadine. 

Amanatnya juga keliatan jelas, ga rumit buat ditebak. Karakter Lana yang berisi, yang sering disalahartikan sebagai gendut yang merupakan problem perempuan masa kini. Penulis seakan memberitahu "Love your Body. You are beautiful in your own way". Buku ini juga ngajarin persahabatan dan juga cinta. Selain itu, problem yang diangkat adalah pertanyaan "Kapan nikah?" atau "Kapan punya cowok?". Penulis menjawab "Jodoh datang dari mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apapun. Nikah kalau sudah ada pasangan yang tepat.". Jadi yang kepengen nikah/pacaran, jangan galau :p, pasti dapet yang tepat kok.

Adegan favorit itu ketika Lana marah-marah pada Sam karena rajin mengiriminya sebuket bunga setiap ahri ke kantornya. Lana menuduh Sam kurang kerjaan bahkan pengangguran. Sam mengakui memang pekerjaannya tidak banyak sehingga dirinya lebih banyak dirumah. Ketika Sam mengatakan pekerjaannya, disitulah aku kaget dan sedikit ketawa hahaha. Juga ketika Sam menjemput Lana dirumahnya. Lana sempat berbohong bahwa yang kemarin mengantarnya adalah Audi, padahal Sam. Ibu Lana mengira bahwa Sam adalah pacar Audi. Sampai akhirnya Lana bilang bahwa itu pacarnya dan ibunya histeris.

Btw, buku ini merupakan hasil cetak dari cerita Wattpad. Penulis memakai akun @Kaleela. Silakan dicek :D

I'll give this book4.2/5 because i like it sooo much. Cocok dibaca buat kalian, remaja perempuan maupun wanita dewasa. Sekadar bacaan ringan saat liburan atau bosan dijalan karena macet saat mudik :p 


Goodbye,
lovelots
xoxo

Friday, July 1, 2016

June wrap-up and HAPPY HAUL-IDAY!


















Here we are! Sudah di akhir bulan juni. Ini dia haul dan wrap-up bulan ini. Bulan ini agak males baca jadi progress baca lambat banget. Aku lagi baca banyak komik.Kepikiran sih buat bikin resensinya seminggu sekali atau seminggu dua kali. Anyway, disini dicantumin juga komik yang diwrap up bulan ini, karena komik kan buku juga :)

Btw, beberapa dari buku ini udah dibikinin resensinya, check 'em out ya

June Wrap-Up :

1. Twilight - Stephenie Meyer
2. Life and Death - Stephenie Meyer
3. Third Party - Luna Torashyngu
4. Cinder - Marissa Meyer
5. So, I Married The Anti-Fan - Kim Eun Jeong
6. The comics i bought (list on the haul section) all wrapped up! 




June book haul :

1. So, I Married The Anti-Fan - Kim Eun Jeong
2. Third Paty - Luna Torashyngu
3. My Gentle Wolves - Shiiba, Nana
4. Love Share - Shiiba, Nana
5. 1/2 Love - Kayoru
6. Captured by Love - Ichikawa, Show
7. Distance To A Kiss - Yoshinaga, Yuu
8. Stupid Love - Nanao, Mio
9. Fixing A Broken Heart - Yasuko
10. The Black Devil and The White Prince #3 - Makino



Yup, itu dia beberapa buku yang udah diwrap up dan haul bulan ini. Hopefully bulan Juli passion baca aku meningkat dan haul juga meningkat :p


Goodbye,
lovelots
xoxo

Thursday, June 30, 2016

Review : The School For Good And Evil #2 : Dunia Tanpa Pangeran - Soman Chainani




Judul : The School For Good And Evil #2 : Dunia Tanpa Pangeran
Author : Soman Chainani
Genre : Romance, Fantasy
Penerbit : Bhuana Sastra
Bahasa : Indonesia
Tebal : 511 hlm
Cover : Softcover
Terbit : Mei 2015

Catatan : Series, #2
ISBN : 978-602-249-949-7
Harga : Rp 85.000,-


Sinopsis : 

Sophie dan Agatha telah berhasil pulang ke Gavaldon, menjalani "bahagia selamanya" versi mereka. Namun, hidup tidak seperti dongeng yang mereka harapkan.

Agatha diam-diam berharap seandainya ia memilih akhir bahagia yang lain bersama pangerannya. Permohonan rahasia itu membuka kembali pintu menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak disangka, dunia yag dulu pernah ia ketahui bersama Sophie ternyata telah berubah. 

Penyihir dan putri, tukang tenung dan pangeran, bukan lagi musuh. Ikatan baru telah terbentuk, menghancurkan hubungan lama. Namun, di balik hubugan rumit antara Kebaikan dan Kejahatan ini, perang sedang dipersiapkan. Musuh yang sangat berbahaya tersembunyi di balik topeng wajah yang mereka kenal. Saat Agatha dan Sophie berjuang untuk memulihkan kedamaian, sebuah ancaman itu datang dari dalam diri mereka sendiri....

Resensi :
Kembali melanjutkan petualan Sophie dan Agaha ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Sophie dan Agatha telah kembali ke Gavaldon dengan selamat. Selama dua ratus tahun semenjak penculikan oleh Sang Guru, akhirnya ada anak yang kembali. Sophie bertekad untuk membuktikan kepada Agatha dan dirinya bahwa dirinya adalah gadis yang Baik, bukan penyihir berkutil yang ada di sekolah tersebut. Sophie mengadakan pertunjukan drama tentang kisahnya di SKK dan bagaimana ia kembali. Agatha tidak menyukai ide itu. Baginya, hanya akan menorehkan kenangan buruk dalam pikirannya. 

Ayah Sophie akan menikah dengan janda gendut bernama Honora, wanita yang sangat tidak disukai Sophie. Sophie mencoba merelakan pernikahan ayahnya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia Baik dan ia akan bersikap baik pada Honora dan anak-anaknya. Agatha marah padanya karena Sophie sangat memaksakan rasa relanya untuk Honora. Agatha tau bahwa Sophie sangat tidak menyukai Honora. Di tengah pernikahan Stefan dan Honora, emosi Agatha memuncak, ia tidak sadar jarinya berpendar terang. Sophie melihatnya sekilas, namun ia mengabaikannya. Sophie tidak tahu, bahwa diam-diam sahabatnya meminta akhir bahagia bersama pangerannya.

Tiba-tiba saja sekumpulan anak panah menyerbu tenda pernikahan. Orang-orang berlarian dengan panik. Serangkaian serangan yang berasal dari luar hutan terus berdatangan. Datangnya serangan itu disertai pesan untuk menyerahkan Sophie. Agatha dan Sophie kabur dari Gavaldon. Mereka mengikuti jejak kupu-kupu biru. Setelah menyusuri hutan dan kebun bunga, mereka sampai di SKK. SKK berubah. Tidak ada Sekolah untuk Kebaikan atau Kejahatan. Sekarang berubah menjadi Sekolah Perempuan dan Sekolah Laki-laki. Para Pangeran didepak dari Sekolah Kebaikan. Mereka sangat marah dan mengancam akan menuntut balas dan membunuh Sophie dan Agatha. Sekolah pun dipimpin oleh Evelyn Sader, saudara Profesor Sader.

Agatha berusaha untuk membatalkan permohonan rahasianya itu. Dia berusaha untuk menemui Tedros untuk menutup permohonannya dan kembali ke Gavaldon. Agatha hanpir mati diserang para mantan pangeran tersebut. Demi Sophie dan demi pulang ke Gavaldon, ia tetap berusaha. Tiga penyihir sahabatnya, Hester, Anadil, dan Dot membantunya. Di tengah perjuangannya, ia tak sengaja melihat Sophie menunjukkan tanda-tanda penyihirnya. Agatha mulai meragukan Sophie. Di menara Laki-laki, para pangeran itu merencanakan untuk menggulingkan perempuan dan membatalkan kehendak para perempuan untuk menjadikan mereka budak.

Itu dia summary dari buku ini. Buku ini dominan oleh ceriata Agatha berusaha menyelamatkan mereka berdua dan kembali pulang ke Gavaldon. Secara plot, buku ini benar-benar penuh kejutan. Minim plot hole. Satu bab ke bab lainnya saling berkaitan. Buku ini penuh dengan suasana petualangan. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya. Susah berhenti baca. Alurnya juga halus, tidak dipaksakan. Karena buku ini masih ada sekuelnya, jelas di akhir, ceritanya menggantung. 


"Baik dengan Baik, Jahat dengan Jahat....

Permohonan keduanya terwujud" 

Tokoh favorit pastinya Agatha. Agatha itu benar-benar setia kawan. Walaupun agak kecewa dengan sikapnya memohon mendapatkan pangeran yang berujung Sophie hampir terbunuh. Walaupun begitu, Agatha masih berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. Agatha bertanggung jawab atas permohonan rahasianya.

Adegan favorit mungkin saat Tedros, Agatha, dan Sophie --sedang bersembunyi-- tengah berseteru di menara Sang Guru. Mereka memperebutkan Storian. Ketika mereka melunak, ketika mereka akan memenuhi takdir cinta senjati mereka, seberkas sinar merah muda menyerang dan memecah mereka. Agatha berpikir Tedros menyerangnya, padahal Agatha datang dengan damai. Tedros pikir Agatha menyerangnya, karena tidak ingin menyerahkan Storian.

So, buku ini benar-benar penuh kejutan. Banyak misteri-misteri tertulis di setiap halaman buku ini dan sayangnya belum dijawab sampai akhir buku. Mungkin beberapa kejaidan misterius sudah dijelaskan di penghujung buku, namun beberapa masih disiapkan mungkin untuk sekuel terakhirnya. Aku ga kecewa sama buku ini. Melampaui ekspektasi.Ga sabar baca terjemahan buku ketiganya! The School For Good and Evil #3 : The Last Ever After. Udah terbit dari 2015, cuma belum ditranslate. Kabarnya, penulis juga merilis The Ever Never Handbook. Buku panduan untuk bersekolah di SKK.

I'll give this book 4.5/5. I really like this book. Buat kalian yang suka dengan cerita Pangeran-Putri klasik namun kalian tetaplah remaja yang suka cerita petualangan, kalian harus baca!! :)

Goodbye,
lovelots
xoxo

Wednesday, June 29, 2016

Review : Writer vs Editor - Ria N. Badaria



Judul : Writer vs Editor
Penulis : Ria N. Badaria
Genre : Romance, Metropop
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indonesia
Tebal : 312 hlm
Cover : softcover
Terbit : Cetakan kedua, November 2015
ISBN : 978-602-032-297-1
Harga : Rp. 60.000,-

Sinopsis : 

Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan... Kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna R. Mirja, bekerja sebagai pegawai swalayan padahal bercita-cita menjadi penulis. Nuna menyebutnya sebagai “pelencengan rencana hidup”. Berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penerbit atas naskahnya sudah cukup menjadi alasan Nuna untuk melupakan cita-citanya. Hingga ia menerima surat dari salah satu penerbit yang menyatakan naskahnya layak untuk diterbitkan. Sepucuk surat yang membuat Nuna berpikir hidupnya akan mulai berjalan sesuai rencana. Sayangnya dia salah. Ini justru awal dari berbagai pelencengan rencana hidup lainnya. Mulai dari mendapat editor yang sangat menyebalkan untuk naskahnya. Bertemu kembali dengan cinta pertamanya, sosok sempurna yang selalu membuatnya patah hati, setiap kali ia menyadari perasaannya takkan pernah tersampaikan. Hingga kehilangan orang yang begitu penting dalam hidupnya, yang mengharuskannya berusaha lebih keras di antara dilema cinta yang datang tak terduga.

Resensi :
Holaaa, back with review! Kali ini mau meresensi sebuah buku yang aku dapatkan karena adanya promo beli 4 bayar 3 di tobuk Grame*dia. Btw, langsung ke resensinya nih.

Buku ini menceritakan seorang penulis yang berusaha agar bukunya diterbitkan. Namun, nasib penerbitan bukunya menggantung. Jadilah ia bekerja sebagai pegawai toko swlayan waralaba. Nampaknya ia harus menunda dahulu cita-citanya menjadi penulis seperti J.K. Rowling. Suatu hari, sepucuk surat mengubah segalanya.

Rengga, laki-laki yang berambisi menjadi seorang jurnalis. Bukannya sembarangan lulusan, nilainya pun tidak jelek dan alumni salah satu kampus terkenal. Sepandai-pandainya mengatur rencana, pasti Tuhan mempunyai jalan-Nya sendiri. Berpuluh-puluh CV ia kirimkan ke berbagai perusahaan jurnalistik namun tak ada satupun yang merespon. Hingga akhirnya, ia melamar sebagai editor redaksi fiksi di sebuah penerbit buku bernama GlobalBooks.

Rengga dan Nuna dipertemukan dalam sebuah naskah yang hendak naik centak. Rengga kesal Nuna sulit dihubungi, juga Nuna yang kesal akan sikap Rengga yang terkesan semena-mena padanya. Ponsel adalah kunci komunikasi Rengga dan Nuna, namun Nuna menolak memilikinya. Teman-temannya pun menganjurkan (sedikit memaksa) Nuna untuk memeli ponsel. Walaupun ponsel di tangan, proses komunikasi mereka tetap tidak berjalan mulus. Rengga bagaikan jatuh tertimpa tangga. Uangnya habis oleh Marsya, pacarnya yang sangat matre dan juga Nuna yang menurutnya tidak bisa profesional. 

Di kantor, Rengga memiliki atasan baru bernama Arfat. Tanoa disangka, Arfat meminta Rengga untuk mempertemukannya dengan Nuna. Rengga yang keheranan pun tetap menghubungi Nuna untuk memintanya datanf ke kantor GlobalBooks. Rengga yang awalnya tidak menyukai Nuna, mulai sedikit melunak pada Nuna. Akan tetapi, Rengga tetap menolah bahwa ia jatuh cinta pada Nuna.

Anyway, buku ini masih tipe buku dengan plot benci jadi cinta. Walaupun begitu, buku ini masih bisa dinikmati. Aku tidak terlalu berharap banyak, so aku ga kecewa kecewa banget. Kelebihan dari buku ini ialah ceritanya ga gantung banget, plotnya halus, mengalir dan natural, juga karakternya jelas dan sang penulis tahu karakter ini akan dibawa kemana dan seperti apa. Konflik yang dipakai juga seperti konflik sehari-hari, cek cok kecil dengan atasan kita. Walaupun begitu, kta tahu bahwa mereka akan baik-baik saja pada akhirnya. Kekuranagnnya mungkin lebih ke tipe cerita yang mainstream, benci jadi cinta dan diperebutkan dua orang idaman. Juga, aku melihat ada beberapa kata yang salah ketik. But, aku dan teman-temanku masih menikmati buku  ini sebagai bacaan ringan yang dibaca saat santai atau membaca buku ini sambil chit-chat dengan teman-teman.

Tokok favorit dari buku ini adalah Radit, sahabat Rangga. Walaupun terkesan provokator, sebenarnya ia orang yang friendly dan humoris. Lucu sekali melihat tingkah Radit yang selalu menggoda Rengga. Sisi lainnya juga ia sangat sayang pada istrinya, bahkan rela pulang cepat hanya karena istrinya yang memang sedang haml itu mulas. Ternyata, istrinya mulas karena salah makan :(

Adegan favorit mungkin ketika Radit berkata pada Rengga bahwa Arfat adalah saingan yang berat untuk mendapatkan Nuna. Alih-alih memberitahu strategi mendapatkan Nuna, Radit malah membeberkan kelebihan Arfat depan Rengga yang mungkin membuat Rengga berpikir "Lo temen gue bukan sih?". Kita bisa melihat bahwa persahabatan Radit dan Rengga memang sudah terjalin sangat kuat.

I'll give this book 3.7/10. Buku yang cukup bisa dinikmati tanpa  eskpektas terlalu tinggi. Mungkin bisa jadi sedikit informasi buat kalian yang mau cetak tulisan-tulisan kalian.

Goodbye,
lovelots
xoxo
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik