/>

Tuesday, June 28, 2016

Review : The Devil In Black Jeans - aliaZalea



Judul : The Devil In Black Jeans
Author : aliaZalea
Genre : Metropop
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indonesia
Tebal : 325 hlm
Cover : Softcover
Terbit : Cetakan kelima, Maret 2014
ISBN : 978-979-22-9188-9
Harga : Rp 65.000,-


Sinopsis :

Dara betul-betul mencintai pekerjaannya sebagai personal assistant para artis, sampai dia bekerja untuk Blu, penyanyi opera Indonesia berumur lima belas tahun. Masalahnya bukan pada Blu, tapi kakaknya, yaitu Johan Brawijaya, drummer paling ganteng se-Indonesia yang superprotektif kepada adiknya dan membuat Dara ingin mencekiknya setiap kali bertemu.
Sebagai drummer kawakan Indonesia dengan wajah di atas rata-rata dan masih single, Jo mencintai kebebasannya untuk melakukan apa saja yang dia mau. Kebebasan ini punah dengan kedatangan adiknya di rumahnya. Seakan itu belum cukup parah, kini seorang PA artis yang sok tahu, super menyebalkan, berbentuk Dara, muncul dan mulai mengatur kehidupannya.
Satu-satunya hal yang membuat mereka berdua bisa saling bertoleransi adalah karena Blu. Atau itulah yang mereka pikir hingga ciuman itu terjadi. Satu ciuman yang membuat keduanya berpikir dua kali tentang perasaan mereka terhadap satu sama lain.

Resensi :
Buku yang berjudul catchy ini bermula ketika pembacaan surat wasiat dari Samuel Brawijaya, drummer Indonesia yang playboy dan juga ayah Jo dari istrinya yang pertama. Adapula Tante Rina, istri kedua ayahnya yang bertahan hanya dua tahun dan tanpa anak. Hadir pula, Tante Poppy dan Blu. Jo tidak dekat pada mereka semua, ia pun memanggil Poppy dengan namanya,k arena jarak usia mereka yang terpaut 10 tahun. Jo pun kembali karena pembacaan wasiat ayahnya yang meninggal karena kecelakaan. Sebelumnya, ia melarikan diri ke Singapura kemudian ke Berlin dengan alasan pendidikan. Mungkin itu alasan utamanya, namun alasan lainnya adalah karena Jo tidak mau terlibat dalam kehidupan para wanita ayahnya. Ketika surat wasiat dibacakan, Jo terkejut bukan main. Ia akan tinggal bersama Blu selama Tante Poppy kursus kuliner di Perancis. Sebagaimana kakak laki-laki yang bertanggung jawab, ia pun menetap di Jakarta dan mengurus Blu.

Jo yang menetap di Jakarta pun ditawari posisi sebagai drummer di band milik Revelino Darby. Jo tetaplah Jo. Dirinya tetaplah pecinta kebebasan dan... wanita. Kehadiran Blu tentu saja tidak bisa membawa sembarangan perempuan kerumahnya. Mengurus perempuan yang masih dalam masa pubertas dan juga berprofesi sebagai penyanyi opera terkenal pun cukup membuat dirinya overwhelm. Ditambah lagi profesinya sebagai drummer terkenal yang punya jadwal tour yang menyita waktunya. Ia pun berpikir untuk mencarikan Blu asisten dengan bantuan Revel. Jo punya sederet daftar kriteria untuk asisten Blu nanti. Ia sangatlah protektif terhadap adiknya. Yah, walaupun Jo terkesan dindin dan cuek pada Blu, sesungguhnya ia sangat sayang pada adiknya itu.

Sisi lain, Dara, professional personal assistant melamar untuk menajdi asisten Blu. Bukanya tanpa pengalaman, Dara pernah menjadi asisten Tante Emil, penyanyi senior. Dara sempat terpikirkan soal Panji, tunangannya. Panji sebenarnya tidak menyukai pekerjaan Dara sebagai PA. Menurut Panji, pekerjaan Dara sangat menghabiskan waktu. Panji tidak punya banyak waktu bersama-sama Dara. Walaupun begitu, Dara masih tetap mengambil pekerjaan itu. Pertama kali bertemu Jo, keduanya langsung bermusuhan. Jo heran mengapa wanita cantik seperti Dara mau menajdi seorang PA dan... kebal terhadap pesonanya. Dara sukses membuat Jo kesal dengan segala tingkahnya. Bagaimana tidak, di pertama kali mereka bertemu saja Dara sudah menuduh dia menggunakan obat-obatan.

Kalau saja adiknya tidak mengatakan bahwa ia sangat menyukai Dara dan ia juga sangat membutuhkan asisten, Jo hampir saja tidak jadi memperkerjakan Dara. Blu sangat dekat pada Dara. Dara sudah seperti kakak perempuan yang sangat pengertian pada Blu. Cek cok antara Dara dan Jo masih saja terus berlanjut. Mulai dari masalah jadwal Blu sampai isi kulkas. Tak lama kemudian, Panji mengetahui pekerjaan Dara dan memajukan pernikahan mereka menjadi bulan depan. Dara dan Jo tidak tahu, bahwa ada perasaan yang tumbuh diantara mereka berdua. 
Aku mendapatkan buku ini sekitar bulan Mei 2016 kemarin. Awalya, aku pernah dengar dari salah satu teman bahwa buku ini recommended banget dan ketika jalan di tobuk pun, buku ini menarik dan catching banget dari segi judul dan 'bling-bling'.
Tipikal cerita benci jadi cinta. Tapi, entah kenapa ada perasaan sendiri membaca buku ini. Buku yang tidak bisa membuatmu berhenti membaca halaman selanjutnya dan bertanya-tanya hal apa yang akan terjadi. By the way, buku ini ada sedikit cuplikan tulisan yang memang membutuhkan bimbingan orang tua. Anyway, i like Dara tho. Dara, perempuan mandiri dan punya pendirian. Hidup Dara punya tujuan, jelas dan tahu cara mencapai tujuannya. Bukan tipe perempuan yang mudah freaking out ketika menghadapi sesuatu diluar kendalinya. Dalam kata lain, Dara pandai mengatur emosinya.
Apabila dilihat dari segi plot, plot teratur, tidak terlalu rumit, dan under-control. Bahasa yang digunakan juga light dan tidak terlalu asing. Adanya pihak ketiga, seperti meramaikan kisah antara Jo dan Dara. Walaupun Jo berusaha membuat Dara cemburu, nyatanya malah Dara berbalik membuat Jo kalang kabut. Buku ini juga menjelaskan suka duka menjadi selebriti dan juga dunia entertainment in a good way. Seperti menghadapi para penggemar dan persiapan manggung.
Kak aliaZalea juga merilis beberapa buku lain yang tampaknya memiliki seutas benang yang sama. Benang pertama yang ditemukan berupa tag buku Celebrity Wedding yang berkisah tentang Revel-Ina. Review it soon?
 Anyway, i like this book.  It gives me a whole new experience. I will recommend it, definitely. Gonna give it 4.4/5 for my drummer! 
Goodbye, lovelots! xoxo

Friday, June 24, 2016

Review : So, I Married The Anti-Fan - Kim Eun Jeong



Judul : So, I Married The Anti-Fan
Author : Kim Eun Jeong
Genre : Romance, Comedy
Penerbit : Penerbit Haru 
Bahasa : Indonesia
Tebal : 525 hlm
Cover : Softcover
Terbit : Cetakan ketiga, Maret 2016
ISBN 13 : 978-602-7742-61-1
Harga : Rp. 81.000,-

Sinopis :

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

 Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan
 Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti

Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya. 

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.

Resensi :
Halooo. Ini resensi lainnya setelah membaca buku ini selama 4 hari. Aku memutuskan membaca buku ini karena mengikuti sebuah BookMates reading challenge. Awal aku membaca ya karena penasaran saja dan sering sekali buku ini tertangkap mata saat sedang berbelanja di toko buku. Covernya yang eye-catching (bright yellow) dan juga gambar seorang gadis yang terlihat kesal karena hoodie-nya ditarik oleh seorang laki-laki. Singkatnya, buku ini terlihat outstanding di rak buku.

Cerita ini dimulai dari Geun Yong, seorang wartawan yang ditugaskan untuk meliput pembukaan sebuah klub milik seorang rapper bernama JJ. Geun Yong pun ditugaskan karena para rekan-rekannya yang berkata "Geun Yong sajalah" saat ditanya siapa yang akan meliput club opening. Geun Yong dan rekannya, Su Hwan minum alkohol sampai Geun Yong mulai merasa kepalanya pusing dan sepertinya ia butuh pergi ke kamar mandi. Saat di kamar mandi, ia terkejut melihat Hu Joon bersikap kasar pada seorang gadis bergaun merah. Hu Joon meninggalkan gadis tersebut menangis di dekat toilet. Geun Yong akhirnya kembali ke mejanya dan memikirkan kejadian di toilet tadi.

Beberapa saat kemudian, Geun Yong merasa alkohol telah membuat dirinya mual. Saat akan mengeluarkan isi perutnya, ia menabrak seseorang dan karena tidak tertahankan, akhirnya ia muntah di baju orang tersebut. Tanpa disangka, orang tersebut adalah Hu Joon, sosok yang ia lihat tadi.Hu Joon membentak Geun Yong dan ia berlalu begitu saja. Malu dan kacau, itulah perasaan Geun Yong. Su Hwan pun mengejar Geun Yong. Geun Yong kembali mual dan muntah di belakang sebuah mobil. Dewi Fortuna sepertinya tidak memihak padanya. Mobil tersebut milik Hu Joon. 

Beberapa hari kemudian, Geun Yong dipecat dari kantornya. Atasannya menganggap Geun Yong tidak becus dalam bekerja. Geun Yong sangat kesal. Ia menuduh Hu Joon telah menyuruh atasannya untuk memecat dirinya. Hu Joon takut citranya memburuk lantaran kejadian malam itu di pembukaan klub JJ. Geun Yong pun menyusun rencana untuk menjatuhkan Hu Joon. Tak disangka, saat sedang berdemo didepan kantor Hu Joon, ia diserang fans Hu Joon. Geun Yong semakin kesal dan semakin berniat untuk menjatuhkan Hu Joon.

Ia pun diminta wawancara oleh seorang reporter mengenai masalah dirinya dengan Hu Joon. Harapan Geun Yong adalah wawancara tersebut dapat membukakan mata masyarakat bahwa Hu Joon tak lebih dari seorang penipu, laki-laki kasar dan penyebab ia dipecat dari kantornya. Lagi-lagi, harapan Geun Yong pupus. Wawancara itu berbalik menyerangnya. Sejak hari itu, ia menyandang nama Anti-Fan.

Tanpa disangka-sangka ia ditawari untuk membintangi sebuah variety show. Variety show yang berjudul So, I Married The Anti-fan tersebut membuat Geun Yong harus tinggal bersama Hu Joon dan manajernya, Ji Hyang. Geun Yong akan menggantikan Ji Hyang sementara sebagai manajer Hu Joon dan seluruh aktivitasnya akan disorot. Geun Yong rasanya kesal sekali, namun karena tawaran bayaran sebesar 10 juta won dan didesak berbagai hutang dan kebutuhan, akhirnya ia menandatangani kontrak syuting variety show tersebut.

Diam-diam, dia pindah ke apartemen Hu Joon yang kebetulan juga dijadikan tempat syuting SIMTA karena ia sudah tidak mampu membayar uang sewa. Acara tersebut menjadi seperti ajang balas dendam bagi Hu Joon dan Geun Yong. Kejadian-kejadian aneh dan iseng mulai mewarnai kehidupan mereka berdua. Mulai dari Geun Yong yang menambahkan sesuatu pada minuman Hu Joon saat syuting iklan, Hu Joon yang dengan sengaja melepaskan layang-layangnya supaya dikejar oleh Geun Yong, dan lain-lainnya. Tinggal bersama-sama Hu Joon, membuat Geun Yong melihat sisi lain Hu Joon. Hu Joon yang terjebak masa lalu dengan In Hyong dan juga konfliknya dengan JJ. Geun Yong lama kelamaan memiliki perasaan lebih pada Hu Joon, namun ia belum menyadarinya

"Menurutku, kau dan Hu Joon sepertinya sudah tidak terlalu saling membenci seperti saat pertama kali bertemu dulu. Sikap Hu Joon padamu, sikapmu pada Hu Joon, sepertinya kalian terlihat mulai saling medukung...." -Page 264


So, the roller-coaster of love is started. Buku ini tipe buku yang sedikit kanak-kanak dalam artian kinda cute in some aspect tetapi masih memiliki sentuhan dewasa didalamnya. Geun Yong yang ambisius dan cenderung aktif bertemu dengan Hu Joon yang sangat cuek namun diam-diam menikmati aksi balas-membalas tersebut. Ribut-ribut kecil dan beragam cek cok terjadi di rumah tersebut. Kita seperti diingatkan dengan sebuah kutipan yang berbunyi "Hati-hati benci jadi cinta. Jodoh tidak ada yang tahu."

My favourite part would be..
Saat Hu Joon dan Geun Yong mengantar seorang fan kecil untuk kembali ke rumahnya di Daegu. Juga menyetir ke Cheongju untuk membantu Geun Yong menemui orang tuanya. Menurutku, bisa dilihat bahawa sebenarnya Hu Joon peduli dan perhatian pada Geun Yong. Karakter yang kusukai mungkin Geun Yong. Geun Yong sangatlah blak-blakan dan transparan. Ia tetap berpikiran positif dalam menjatuhkan Hu Joon, namun siapa sangka bahwa variety show tersebut menguban dirinya dan padangannya terhadap Hu Joon. Kabarnya, buku ini akan diadaptasikan ke film berjudul serupa dengan cast Park Chanyeol sebagai Hu Joon dan Yuan Shanshan sebagai Geun Yong. Apakah filmnya akan sesuai ekspektasi kita, para pembaca?

Kalau kamu adalah seorang pembaca setia buku-buku romance dan komedi, buku ini mesti kamu baca karena perpaduan antara romance dan komedi disini cukup apik. Romansa yang terbalut dalam komedi yang membuat kita tertawa kecil saat membacanya.

3.7/5 deh buat kalian, cheers! *drink soju*

Goodbye,
and lovelots
XOXO

Thursday, June 23, 2016

Review : Peek A Boo, Love - Sofi Meloni




Judul : Peek A Boo, Love
Author : Sofi Meloni
Genre : Amore; Romance
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indonesia
Tebal : 246 hlm
Cover : Softcover
Terbit : 25 Januari 2016
ISBN 13 : 978-602-032-408-1
Sinopsis :
Hey, Cinta. Apakah kamu di sana? Oh,  tidak? Mungkin di sini? Tidak juga ternyata. Sebenarnya kamu di mana?
Memulai kehidupan profesional tidak semudah yang kubayangkan saat aku memutuskan pindah ke  Jakarta.  Macet dan polusi di mana-mana, Transjakarta yang sesak, serta kopi pahit yang disodorkan rekan kerjaku setiap pagi. Belum lagi atasanku, Pak Daniel, yang kelewat misterius.
Semuanya semakin rumit saat masalah datang dan mempertemukanku kembali dengan Evan, pria yang mengajakku berkenalan di halte Transjakarta.  Kejutan lainnya adalah Sam, teman chatting-ku, yang ternyata juga berada di kota yang sama denganku dan mengajak ketemuan! Entah berapa banyak lagi kejutan yang menantiku di kota metropolitan ini.
Hey, Cinta. Apa aku akhirnya akan menemukanmu di sini?
-Lulu-

Resensi :
So, cerita ini adalah cerita romance yang menceritakan gadis yang bernama Lulu yang pindah ke Jakarta dan mencoba menjalani hidup barunya disana.

Kisah dimulai dari pertemuan Lulu dengan Evan di halte busway dan berlanjut rapat purchasing. Evan yang bertemu dengan Lulu setiap pagi di Halte. Evan yang supel, Evan yang friendly, Evan yang ini dan Evan yang itu. Lulu pun mengagumi sosok Evan dan mengira bahwa Evan menyukainya juga. Sampai pada sebuah acara kenaikan jabatan sekaligus perayaan Ulang Tahun Evan, dimana Lulu ditampar oleh kenyataan. Sebuah obrolan ringan antar teman kerja yang tak sengaja tercuri dengar olehnya. Evan mendekatinya karena menyukai teman satu divisinya, Cindy. 

Lain hal di divisi kantornya, Purchasing. Ia tidak harmonis dengan teman satu divisinya, Cindy. Baginya, Cindy adalah tipikal wanita kantor yang kurang ia sukai. Lulu juga tidak menyukai sikap Cindy yang terang-terangan seperti menggoda atasan mereka, Pak Daniel. Tindakan Cindy yang cenderung seduktif membuat Lulu sedikit gerah. Ribut-ribut kecil  mereka di kantor seringkali membuat Pak Daniel sedikit pusing. 

Segala perasaan dirinya, keluh kesah maupun  cinta ia utarakan pada teman internetnya, Sam. Walaupun aku sedikit tidak menyangka ada karakter "Sam". Seperti "Woah, i didn't see that coming.", namun siapa tahu bahwa dia adalah kunci dari hidup Lulu. Sam sangatlah baik pada Lulu. Bahkan mengiriminya sebuah barang.

Salah satu karakter yang sedikit tersembunyi namun ternyata sangat penting adalah Pak Daniel. Atasan Lulu. Ia tidak pernah terang-terangan memerhatikan Lulu, namun perhatian itu ada. Hanya saja harus lebih jeli melihatnya. Tipikal atasan yang merasa bersalah bila anggotanya tidak berjalan sesuai rencananya. Juga kebal terhadap godaan Cindy.

Novel ini menghadirkan kejutan-kejutan tidak terduga. Hal kecil yang terkadang seperti pemanis cerita justru itulah kunci dari segala misteri yang ada. Banyaknya plot twist yang akan membuat kalian berpikir "one more page" walaupun waktu sudah menunjukkan jam 1 pagi di hari kerja, Isi buku ini menghangatkan hati dan membuat berbunga-bunga. Terkadang tersenyuk sendiri dan kesal sendiri karena tingkah para tokohnya.

Latar yang dipakai dibuku ini sangat natural. Pertemuan sehari-hari dengan teman keja di tempat umum dan sedikit intrik dengan teman sekantor. Mungkin sedikit tidak related dengan pembaca usia muda seperti aku. But, kalau kalian adalah pembaca dengan usia 20 tahun ke atas, buku ini terasa related dengan keseharian kalian. 

My favorite part would be the meeting. Pertemuan Sam dan Lulu di sebuah kafe buku. Twist yang benar-benar membuat kalian kaget, sedikit cursing dan a very big smile. Casual but shocking, i can say. Another favorit part is adegan mereka di lift. Mereka yang terjebak dalam lift, berdua. Menunggu bantuan datang. Mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Ternyata, mereka tidak sadar akan sesuatu yang akan terjadi ke depan. 


Overall, i like this book. Romance yang sangat terasa dan natural. Tidak berlebihan dan alurnya pun mengalir begitu saja. 

Have a 3.8/5 future, Ms. Geeky and Sam.

Friday, March 18, 2016

Review : Perfume : The Story Of A Murderer - Patrick Süskind



Judul : Perfume : The Story Of A Murderer
Author : Patrick Süskind
Genre : Mystery, Horror Fiction, Romance
Penerbit : Prima Ufuk
Bahasa : Indonesia
Tebal : 456 hlm
Cover : Softcover
Terbit : Februari 2016
ISBN 13 : 978-602-372-072-9
Harga : Rp. 69,500,-
Sinopsis :
Jean-Baptiste Grenouille dilahirkan tanpa bau tubuh, namun memiliki indra penciuman yang luar biasa. Ia mampu memilah-milah seluruh bau yang ada. Dari seorang ahli parfum ternama, ia mewarisi seni meramu berbagai minyak dan tumbuhan. Namun kegeniusannya telah melampaui itu semua. Setelah mencium aroma seorang perawan, ia terobsesi untuk menciptakan ‘parfum terbaik’ yang pernah ada. Obsesi yang mengubahnya menjadi seorang pembunuh.

Pembunuhan berantai yang misterius terjadi. Dua puluh lima gadis perawan tewas mengenaskan. Pakaian dan rambut serta kulit kepala mereka hilang. Tubuh mereka benar-benar layu, seolah tak pernah hidup sebelumnya. Seakan seluruh daya hidup yang pernah ada telah terisap tak bersisa. Semua pembunuhan identik. Dilakukan dengan amat rapi dan terencana. Masterpiece seorang seniman yang genius.

Resensi :
Buku ini menceritakan riwayat hidup Jean-Baptiste Grenouille, seseorang yang lahir tanpa bau tubuh. Mulai dari ia lahir, masa kecil, bahkan sampai ia menemui ajalnya. Anugerah yang dimilikinya bagaikan pisau bermata dua untuknya, Salah satu sisi mendatangkan rasa penasaran akan bau seluruh benda di seantero Perancis namun rasa penasaran inilah yang membuat dirinya adalah seorang pembunuh berantai. Pencariannya akan wewangian sempurna pun menjadi obsesi besarnya hingga mampu membunuh.

Diceritakan juga bahwa si Jean-Baptiste Grenouille ini adalah seorang misanthrope, seseorang yang membenci orang-orang di sekitarnya. Bahkan Grenouille mengurung dirinya dalam gua sempit selama bertahun-tahun. Dia mencari jawaban atas bau-bau yang menjadi pertanyaannya dan mencari aroma-aroma baru. 


Saat tertangkap atas dakwaan membunuh, ia pun tidak terlihat menyesal. Sampai akhirnya, ketika akan dieksekusi, sebotol kecil parfum beraroma 25 perawan yang ia bunuh ia teteskan di sehelai sapu tangan dan menyebarkan aromanya membuat orang-orang di alun-alun itu lantas memujanya seperti Tuhan. Ia sukses membuat seluruh penduduk kota itu bahkan algojonya sendiri tunduk padanya. Grenouille kembali ke kota asalnya dilahirkan. Ia mengambil sebotol kecil parfum tadi dan menuangkannya ke seluruh tubuhnya. Orang-orang tersebut mengerubunginya dan memakannya karena saking 'cinta'nya mereka pada aroma Grenouille. Ia hidup dan meninggal dengan keyakinan bahwa seseorang akan mencintai sesuatu karena bau dan rupanya.


Overall, aku suka banget sama cerita yang dibawain di buku Perfume ini karena alurnya benar-benar kuat dan konsisten. Judulnya nyambung banget sama isi ceritanya dan plotnya ga 'overwhelming' ke plot cerita lain. Karakter Jean-Baptiste Grenouille sangat sangat terasa di buku ini. Mulai dari gaya hidup, kesehariannya, usaha-usahanya dalam membuat dirinya memiliki bau, juga akhir cerita yang tidak nanggung dan tidak klise. Penggambaran dunia bisnis parfum pun benar-benar terasa. Seperti, kita para pembaca, diajari cara membuat parfum itu sendiri. 


Penggambaran sosial-budaya Perancis saat itupun kuat. Seakan-akan, kita mengenal Perancis sampai ke sudut-sudutnya, Aku kagum akan penulisannya, karena faktor perbedaan kultural antara buku yang ia tulis dan latar belakang hidupnya. Penulisnya berasal dari Jerman, tetapi ia menggambarkan dengan saat baik negara Perancis.


Buku yang menang ditulis dari sudut pandang orang ketiga ini memiliki sejarahnya sendiri.Patrick Süskind menulis manuskrip pertamanya pada tahun 1985. Buku ini was a great hit! Titel bestseller pun diraih buku Perfume selama 9 tahun. Buku ini diterjemahkan ke 48 bahasa dan sudah terjual 20 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu penjualan buku terbesar di abad 20.


Here's a pic of the first original copy 




First original copy ini udah bener-bener rare banget. Udah ga diproduksi lagi dan udah langka pake banget. Bahkan cover tahun 2006 saja sudah mulai jarang beredar. Buku ini masih diproduksi sampai saat ini namun dalam cover yang berbeda.

Buku ini juga diadaptasi ke dalam film yang berjudul sama pada tahun 2006. Film yang berlatar di Perancis abad 18 ini dibintangi oleh Ben Whishaw sebagai Jean-Baptiste Grenouille, Alan Rickman, Rachel Hurd-Wood, dan Dustin Hoffman. 

Here's a pic of the movie poster




Film ini rilis di Jerman pada 14 September 2016, Di UK pada 26 Desember 2006 dan di US pada 27 Desember 2006. Awalnya sang penulis sendiri, Patrick Süskind menolak menjadikan buku ini diadaptasi menjadi sebuah film pada tahun 1985. Namun, sang penulis akhirnya menjual right buku ini pada Bernd Eichinger pada 2000. For your information, draft film ini butuh waktu bertahun-tahun dan membutuhkan 20 revisi. Casting untuk Jean-Baptiste Grenouille pun memakan waktu satu tahun. Namun, pada pertengahan 2006 film ini selesai dan mulai dirilis pada Desember 2006.

Nah, itu dia resensi buku Perfume dari aku. Btw, aku dapat ini dari bukabuku.com dan mereka kasih free gift gitu kalo kalian beli Perfume copy disitu. Kalian juga bisa dapetin buku ini di gramedia.com, bukukita.com, dan di toko buku terdekat di kota kalian.

Mungkin, 4/5 cukup bagus untuk Grenouille <3
GoodBye,
Lovelots xoxo

Friday, March 11, 2016

Review : The School For Good And Evil - Soman Chainani


Judul : The School For Good And Evil
Author : Soman Chainani
Genre : Fantasy, Romance, Fiction
Penerbit : Bhuana Sastra
Bahasa : Indonesia
Tebal : 580 halaman
Cover : Softcover
Terbit : 2013 (US), 2014 (ID)
ISBN 13 : 978-602-031-753-3
Catatan : Buku series, #1
Harga : Rp. 84.000,-

Sinopsis :

Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadangkan menjadi murid Sekolah kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.

Namun, ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke sekolah kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke sekolah kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah dalam bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.

Resensi :


Di hutan purbakala


Berdirilah sekolah kebaikan dan kejahatan

Dua menara bagai kepala kembar

Satu untuk yang tulus

Satu untuk yang keji

Sia-sia mencoba kabur

Satu-satunya jalan keluar adalah

Melalui dongeng


Cerita ini dimulai dari kisah persahabatan antara Sophie dan Agatha. Sophie yang sangat feminin dan centil bertemu dengan Agatha yang goth dan cuek. Bab awal dari novel ini cukup menggambarkan karakter yang akan dibangun di bab-bab selanjutnya.

Penggambaran lingkungannya pun sangat baik. dimana tempat tinggal Sophie dan Agatha adalah sebuah desa dnegan hutan tak bertepi. Mau seperti apapun usahamu untuk keluar, kau tak akan pernah keluar.

Cerita sesungguhnya dimulai ketika banyaknya anak berusia remaja hilang dan berakhir dalam dongeng. atau setidaknya, mirip. Semua buku itu memiliki cap. Cap angsa putih dan angsa hitam dan bertuliskan "Sekolah Kebikan dan Kejahatan". Seluruh desa pun khawatir anak-anak mereka akan diculik oleh Sang Guru dan mengirimkan mereka kepada SKK.

Petualangan keduanya sangat terasa di buku ini. Bagaimana Sophie yang protes dirinya ditempatkan di Sekolah Kejahatan dan Agatha yang sangat ingin kabur dari Sekolah Kebaikan. Sophie merasa dirinya adalah putri yang manis nan baik dan Agatha merasa dirinya biasa saja, cenderung tidak masalah apabila masuk Sekolah Kejahatan.

Nyatanya, mereka tidak bisa keluar dari sekolah mereka. Mereka terjebak. Mereka pun mulai menjalani sebagaimana murid Ever dan Never.




Terrnyata, cerita mereka berdua sedang ditulis oleh Storian dan mereka tidak bisa mengubahnya, kecuali mereka menemukan cinta sejati dan menciumnya. Lama-kelamaan, sifat asli mereka terlihat. Sophie yang ternyata hanya tulus pada Agatha supaya masuk Sekolah Kebaikan dan Agatha yang sangat tulus menyayangi Sophie (namun dia sendiri tidak menyadarinya) dan diperintahkan ibunya untuk masuk Sekolah Kejahatan.

Sophie yang awalnya terlihat manis, mulai terlihat jahat semenjak ia mengetahui bahwa Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan. Ia iri.Ia merasa bahawa dirinya lebih baik dan lebih pantas dari Agatha.

Agatha masih menyayangi Sophie. No matter what. Ia juga tidak peduli peringkat-peringkat bagus yang diraihnya di Sekolah Kebaikan. Hal yang selalu ada di pikirannya adalah bagaimana ia dan Sophie meloloskan diri dari sekolah ini.

Persahabatan keduanya diuji ketika Agatha menyukai Tedros dan Sophie memanfaatkan Tedros untuk mendapatkan ciumannya. Agatha dengan sangat tulus membantu Sophie mendapatkan Tedros. Padahal, Agatha juga menyukai Tedros.

Romance, fiction, friendship, fantasy you name it! Buku ini sukses mengaduk-ngaduk isi pikiran dan emosiku. Perjuangan Agatha, keegoisan Sophie, sampai hal-hal penuh pengorbanan antara mereka berdua. Alurnya tidak cepat dan tidak lambat. Konsisten dan kuat. Amanat yang disampaikan pun sangat positif. Banyak kejutan-kejutan baru setiap lembarnya. Semuanya terasa segar dan orisinal. Bukan tipe roman yang cheesy atau fiction yang tidak masuk akal.

 I will give 4.5/5 for this! Awal yang sangat bagus untuk sebuah permulaan series. Cocok banget dibaca pas lagi ingin bacaan santai dan ringan


Goodbye,
lovelots
xoxo
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik